LAPORAN
LENGKAP
PRAKTIKUM
GEOLOGI FISIK
OLEH:
NAMA :
STAMBUK :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM
GEOLOGI FISIK
FAKULATAS
TEKNIK JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS
VETERAN REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
LEMBAR PENGESAHAN
DIBERIKAN
KEPADA
LABORATORIUM
GEOLOGI FISIK
FAKULTAS
TEKNIK JURUSAN TEKNIK
PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS
VETERAN REPUBLIK INDONESIA
Sebagai syarat untuk
mengikuti ujian praktikum,
GEOLOGI FISIK
GEOLOGI FISIK
Disetujui
Oleh:
|
NO
|
NAMA ASISTEN
|
PARAF
|
|
1
|
HELMI AS,
ST.
(Kordinator
Asisten)
|
|
|
2
|
I MADE
MANIK SASTRAWAN, ST.
|
|
|
3
|
DIAN TRI
PUTRA
|
|
|
4
|
MUHAMMAD IMAM SAFIY
|
|
|
5
|
JUNIARTO KADANG
|
|
|
6
|
SUPRIADI
|
|
|
7
|
SWARMAN
|
|
|
8
|
YUNDRIL
RUBEN
|
|
|
9
|
ANDI AWAL
PRAMANA PUTRA
|
|
|
10
|
AISYA
INDRI MARESA
|
|
|
11
|
ALFIENTA
BENNY
|
|
|
12
|
ARDHI BUDI
W
|
|
|
13
|
DWI
YOLANDA SUMBUNG
|
|
|
14
|
ICHWANUL
FAJRI
|
|
|
15
|
NURUL ILMI
|
|
|
16
|
MUHAMMAD
TRI ADITYA
|
|
|
17
|
PATRI
BANJAR SILAS
|
|
|
18
|
PALIOMEN
PAONGANAN
|
|
DOSEN
PEMBIMBING
LAB. GEOLOGI FISIK
Ir. Hasanuddin , M.Si
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa , karena atas limpahan nikmat dan karunia-Nya, serta kesehatan dan kesempatan dari-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan ini yang menjadi salah satu syarat dalam mengikuti ujian praktikum
Geologi fisik.
Dalam
penyusunan laporan ini, saya mendapatkan bimbingan dan arahan. Untuk itu saya
berterima kasih kepada bapak Ir. Hasanuddin, M.Si selaku dosen pengajar mata
kuliah Geologi fisik, para Asisten Laboratorium Geologi fisik, dan teman-teman
angkatan 2013 Fakultas Teknik jurusan pertambangan UVRI Makassar serta seluruh
pihak yang telah membantu saya dalam penyelesaian Laporan Lengkap Geologi
fisik ini.
Saya
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun.
Akhir
Kata, mohon maaf atas segala kekurangan yang ada dalam laporan ini serta semoga
Allah SWT selalu meridhoi
usaha kita semua.
Makassar,
Desember 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
SAMPUL…………………………………………………………………………………
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………………
KARTU KONTROL LABORATORIUM……………………………………………
KARTU KONTROL ASISTENSI………………………………………………………
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….
DETERMINASI MINERAL
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang…………………………………………………………………
B.
Maksud
dan Tujuan……………………………………………………………
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengrtian
Mineral……………………………………………………………...
B.
Sifat
Fisik
Mineral..............................................................................................
BAB III LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI MINERAL
BAB IV PENUTUP
A.
KESIMPULAN..................................................................................................
B.
SARAN...............................................................................................................
DETERMINASI BATUAN
BEKU
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang....................................................................................................
B.
Maksud
dan Tujuan.....................................................................................
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Proses
Terbentuknya Batuan beku....................................................................
B.
Struktur
Batuan
Beku......................................................................................
C.
Tekstur
Batuan
Beku...................................................................................
D.
Klasifikasi
Batuan Beku.............................................................................
BAB III LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI BATUAN BEKU
BAB IV PENUTUP
A.
KESIMPULAN..................................................................................................
B.
SARAN...............................................................................................................
DETERMINASI BATUAN
SEDIMEN
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang.............................................................................................................
B.
Maksud
dan
Tujuan...........................................................................................
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Proses
Terbentuknya Batuan Sedimen..............................................................
B.
Struktur
Batuan
Sedimen..............................................................................
C.
Tekstur
Batuan
Sedimen....................................................................................
D.
Klasifikasi
Batuan Sedimen.........................................................................
BAB III LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI BATUAN SEDIMEN
BAB IV PENUTUP
A.
KESIMPULAN..................................................................................................
B.
SARAN...............................................................................................................
DETERMINASI BATUAN
METAMORF
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang..............................................................................................
B.
Maksud
dan
Tujuan.....................................................................................
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Proses
Terbentuknya Batuan Metamorf.............................................................
B.
Struktur
Batuan
Metamorf...........................................................................
C.
Tekstur
Batuan
Metamorf................................................................................
D.
Klasifikasi
Batuan Metamorf.........................................................................
BAB III LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI BATUAN METAMORF
BAB IV PENUTUP
A.
KESIMPULAN..................................................................................................
B.
SARAN...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN I
Siklus
Batuan...........................................................................................................
LAMPIRAN II
Lampiran
Asistensi…………………………………………………………………
Laporan
Sementara Geologi Fisik.......................................................................
LAMPIRAN
I
SIKLUS
BATUAN
LAMPIRAN
II
LAMPIRAN
ASISTENSI
LAMPIRAN
II
LAPORAN
SEMENTARA GEOLOGI FISIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Geologi adalah ilmu yang mempelajari
proses-proses yang terjadi baik dalam maupun dari atas permukaan bumi, beserta
mineral-mineral penyusunnya..
Batuan adalah agresi atau kumpulan
dari satu atau lebih mineral ( sejenis atau tidak sejenis),dalam suatu
perbandingan tertentu, biasany tidak homogeny atau tidak pula mempunyai susunan
kimia dan sifat-sifat fisika yang tetap dan terbentuk di alam.
Mineral adalah suatu benda padat
yang homogen terdapat di alam, terbentuk secara anorganik mempunyai komposisi
kimia pada batas –batass tertentu mempunyai atom yang tersusun secara teratur .
Determinasi
atau pengenalan mineral dapat didasarkan pada berbagai sifat dari mineral itu
sendiri, antara lain sifat fisika dan bentuk kristal serta sifat optik.Namun
dalam praktikum ini, kita hanya terbatas pada pengenalan sifat fisik dari
mineral.
Untuk menentukan nama mineral
terlebih dahulu dilakukan determinasi sifat-sifat fisik mineral yang meliputi :
warna, kilap,bentuk, kekerasan, berat jenis, belahan, pecahan dan cerat.
B. Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud diadakannya praktikum
geologi ini agar praktikan dapat
mengetahui bentuk dan jenis – jenis mineral.
Sedangkan tujuan diadakannya
praktikum adalah agar praktikan dapat
mendeterminasi sifat sifat fisik mineral.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian Mineral
Mineral adalah suatu benda padat yang
homogen terrdapat di alam, terbentuk secara
mempunyai komposisi kimia pada batas –batass tertentu mempunyai atom
yang tersusun secara teratur .
Mineral terbentuk di alam secara alami dari hasil kristalisasi
magma pijar yang membeku. Pengenalan mineral atau determinasi mineral dapat
didasarkan atas berbagai sifat mineral tersebut. Antara lain sifat fisika dan
bentuk kristal mineral tersebut secara optik.
B.
Sifat Fisik Mineral
Beberapa sifat fisika yang penting adalah sifat-sifat fisik
mineral tersebut meliputi: warna (colour), kilap (luster), belahan (cleavage),
pecahan (fracture), kekerasan (hardness), cerat/goresan (streak), Diaphaneti
dan berat jenis.
a.
Warna (colour)
Banyak mineral mempunyai warna yang khusus, seperti klorit yang
berwarna hijau. Warna adalah kesan
mineral jika terkena cahaya. Warna mineral dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
idiokromatik, bila warna mineral selalu tetap, umumnya dijumpai pada
mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opaque) seperti : galena, magnetit,
pirit dan alokromatik. Bila warna mineral tidak tetap, tergantung dari mineral
pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya
(transparan) seperti kuarsa dan kalsit.
b.
Kilap (luster)
Kilap adalah kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan
padanya.Kilap mineral dapat dikelompokkan menjadi :
* Kilap logam (luster metallic) memberikan kesan seperti logam
bila terkena cahaya.Kilap ini biasanya dijumpai pada mineral-mineral yang
mengandung logam atau mineral bijih, seperti emas, galena, pirit dan
kalkopirit.
* Kilap
setengah logam (sub metallic luster)
* Kilap
bukan logam, tidak memberikan kesan seperti logam jika terkena cahaya.
Kilap jenis ini dapat dibedakan menjadi :
a. Kilap kaca (vitreous luster), memberikan kesan seperti kaca
bila terkena cahaya, misalnya : kalsit, kuarsa, halit.
b. Kilap intan (adamantine/diamond luster), memberikan kesan cemerlang
seperti intan, contohnya intan.
c. Kilap sutera (silky luster), memberikan kesan seperti sutera,
pada umumnya terdapat pada mineral yang
mempunyai struktur serat, seperti asbes, aktinolit, gypsum.
d. Kilap dammar (resinous luster), memberikan kesan seperti
damar , contohnya : sfalerit dan resin
e. Kilap mutiara (perly luster), memberikan kesan seperti
mutiara atau seperti bagian dalam dari kulit kerang misalnya talk, dolomite,
muskovit dan tremolit.
f. Kilap lemak (greasy luster), menyerupai lemak atau sabun,
contohnya : talk, serpentin.
g. Kilap tanah (earthy luster), kenampakannya buram seperti
tanah, misalnya kaolin, limonit,
bentonit.
h. Kilap lilin (waxy luster).
c.
Belahan (cleavage)
Yaitu kenampakan mineral berdasarkan kemampuannya membelah
melalui bidang-bidang belahan yang rata dan licin.Bidang belahan umumnya
sejajar dengan bidang tertentu dan mineral tersebut secara teratur. Belahan
pada mineral terdiri dari :
Ø Belahan 1 arah
Ø Belahan 2 arah
Ø Belahan 3 arah
Ø Belahan 4 arah
Ø Belahan 5 arah
Ø Belahan 6 arah
d.
Pecahan (fracture)
Pecahan adalah kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang
tidak rata dan tidak teratur. Secara umum pecahan dikenal dengan 3 istilah
yaitu :
1.Pecahan Rata (Even) bila permukaannya rata dan cukup halus,
contohnya : mineral lempung.
2.Pecahan Melengkung (Concoidal) bila memperlihatkan gelombang
yang melengkung dipermukaan.
3.Pecahan Tidak Rata (Uneven) bila memperlihatkan permukaan yang
tidak teratur dan kasar misalnya pada garnet.
Selain itu dapat juga dikelompokkan menjadi :
Ø Pecahan
berserat/brus, bila menunjukkan kenampakan seperti serat,
contohnya : asbes,
augit.
Ø Pecahan runcing,
bila permukaannya tidak teratur, kasar dan ujungnya runcing- runcing, contohnya
: mineral kelompok logam murni.
Ø Tanah, bila
kenampakannya seperti tanah, contohnya mineral lempung.
e.
Kekerasan (hardness)
Kekerasan adalah
ketahanan atau daya tahan mineral (resistensi mineral) terhadap suatu goresan
(jika permukaannya digores). Secara relative sifat fisik ini ditentukan dengan
menggunakan skal Mohs, yang dimulai dari skala 1 yang paling lunak hingga skala
10 untuk mineral yang paling keras.
Berikut adalah urutan kekerasan mineral (Skala Mohs) :
TABEL KEKERASAN
MINERAL (SKALA MOHS)
|
Kekerasan
(Hardness)
|
Nama Mineral
|
Rumus Kimia
|
|
1
|
Talk
|
Mg3Si4O10(OH)2
|
|
2
|
Gypsum
|
CaSO4 2H2O
|
|
3
|
Kalsit
|
CaCO3
|
|
4
|
Fluorit
|
CaF2
|
|
5
|
Apatit
|
Ca5(PO4)3F
|
|
6
|
Ortoklas
|
KAlSi3O8
|
|
7
|
Kuarsa
|
SiO2
|
|
8
|
Topas
|
Al2(SiO4)(F2OH)2
|
|
9
|
Korondum
|
Al2O3
|
|
10
|
Intan
|
C
|
Selain itu dapat pula
digunakan perbandingan kekerasan relatif, yaitu : Kuku jari tangan = 2,5 ;
kawat tembaga = 3,5 ; porselen = 5-5, 5 ; pisau lipat = 6 ; kikir baja = 6 ;
kuarsa = 7.
f.
Cerat/ Goresan (streak)
Cerat atau warna bubuk
adalah warna mineral dalam bentuk bubuk. Cerat dapat sama atau berbeda dengan
warna mineral. Umumnya warna cerat tetap.
g.
Struktur/ Bentuk mineral
Bentuk mineral dapat
dikatakan kristalin, bila mineral terseburt mempunyai bidang Kristal yang jelas
dan disebut amorf, bila tidak mempunyai batas-batas Kristal yang jelas.
Mineral-mineral di alam jarang dijumpai dalam bentuk kristalin atau amorf yang
ideal, karena kondisi pertumbuhannya yang biasanya terganggu oleh proses-proses
yang lain.
Struktur mineral dapat dibagi menjadi beberapa
bagian, yaitu :
1. Granular atau butiran : terdiri atas butiran-butiran mineral
yang mempunyai dimensi yang sama, isometric.
2. Struktur kolom,
biasanya terdiri dari prisma yang panjang dan bentuknya ramping. Bila
prisma tersebut memanjang dan halus,
maka dikatakan mempunyai struktur fibrus atau berserat.
3. Struktur lembaran atau lamellar, mempunyai kenampakan seperti
lembaran. Struktur ini dibedakan menjadi tabular, konsentris dan foliasi.
4. Struktur imitasi, bila mineral menyerupai bentuk benda lain,
seperti asikular, liformis, membilah,
dll.
h.
Berat Jenis
Berat relatif dari
suatu mineral diukur terhadap berat dari air, atau berat relative dari suatu
mineral diukur terhadap berat di udara, atau perbandingan antara berat mineral
di uadara terhadap volumenya di dalam air
i.
Sifat dalam
Yaitu merupakan reaksi
mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemotongan,
pembengkokan, pematahan, pemukulan atau penghancuran. Sifat dalam dibagi
menjadi : rapuh (brittle), dapat diiris (sectile), dapat dipintal (ductile),
dapat ditempa (malleable), kenyal/lentur (elastic) dan fleksibel (flexible).
C.
KLASIFIKASI DAN CONTOH
MINERAL
Berikut
adalah Klasifikasi mineral yang digunakan berdasarkan klasifikasi menurut James
D.Dana (dalam Kraus, Hunt,dan Ramsdell, 1951) yang didasarkan pada kemiripan
komposisi kimia dan struktur kristal, adalah sebagai berikut:
1. Kelompok Native Element (Unsur Murni)
Native element atau unsur murni ini adalah kelas mineral yang dicirikan dengan hanya memiliki satu unsur atau komposisi kimia saja. Mineral pada kelas ini tidak mengandung unsur lain selain unsur pembentuk utamanya. Pada umumnya sifat dalam (tenacity) mineralnya adalah malleable yang jika ditempa dengan palu akan menjadi pipih, atau ductile yang jika ditarik akan dapat memanjang, namun tidak akan kembali lagi seperti semula jika dilepaskan.
Dibagi lagi dalam 3 kelas mineral yang berbeda ,
antara lain :
a.
Metal dan element intermetalic (logam). Contohnya: emas (Au), perak (Ag),
Platina (Pt) dan tembaga (Cu). sistem kristalnya adalah
isometrik.
b. Semimetal (Semi logam). Contohnya: bismuth (Bi), arsenic (As), , yang keduanya memiliki sistem kristalnya adalah hexagonal.
c. Non metal (bukan logam). Contohnya intan, graphite dan sulfur. sistem kristalnya dapat berbeda-beda, seperti sulfur sistem kristalnya orthorhombic, intan sistem kristalnya isometric, dan graphite sistem kristalnya adalah hexagonal. Pada umumnya, berat jenis dari mineral-mineral ini tinggi, kisarannya sekitar 6.
isometrik.
b. Semimetal (Semi logam). Contohnya: bismuth (Bi), arsenic (As), , yang keduanya memiliki sistem kristalnya adalah hexagonal.
c. Non metal (bukan logam). Contohnya intan, graphite dan sulfur. sistem kristalnya dapat berbeda-beda, seperti sulfur sistem kristalnya orthorhombic, intan sistem kristalnya isometric, dan graphite sistem kristalnya adalah hexagonal. Pada umumnya, berat jenis dari mineral-mineral ini tinggi, kisarannya sekitar 6.
2. KELOMPOK SULFIDA
Kelas mineral sulfida atau dikenal juga dengan nama sulfosalt ini terbentuk dari kombinasi antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang) (S2-). Pada umumnya unsure utamanya adalah logam (metal).
Pembentukan mineral kelas ini pada umumnya terbentuk disekitar wilayah gunung api yang memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Proses mineralisasinya terjadi pada tempat-tempat keluarnya atau sumber sulfur. Unsur utama yang bercampur dengan sulfur tersebut berasal dari magma, kemudian terkontaminasi oleh sulfur yang ada disekitarnya. Pembentukan mineralnya biasanya terjadi dibawah kondisi air tempat terendapnya unsur sulfur. Proses tersebut biasanya dikenal sebagai alterasi mineral dengan sifat pembentukan yang terkait dengan hidrotermal (air panas).
Mineral kelas sulfida ini juga termasuk mineral-mineral pembentuk bijih (ores). Dan oleh karena itu, mineral-mineral sulfida memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Khususnya karena unsur utamanya umumnya adalah logam. Pada industri logam, mineral-mineral sulfides tersebut akan diproses untuk memisahkan unsur logam dari sulfurnya.
Beberapa penciri kelas mineral ini adalah memiliki kilap logam karena unsur utamanya umumnya logam, berat jenis yang tinggi dan memiliki tingkat atau nilai kekerasan yang rendah. Hal tersebut berkaitan dengan unsur pembentuknya yang bersifat logam.
Beberapa contoh mineral sulfides yang terkenal adalah pirit (FeS2), Kalkosit (Cu2S), Galena (PbS), sphalerite (ZnS), dan Kalkopirit (CuFeS2) .Dan termasuk juga didalamnya selenides, tellurides, arsenides, antimonides, bismuthinides dan juga sulfosalt.
3. KELOMPOK OKSIDA DAN HIDROKSIDA
Mineral oksida dan hidroksida ini merupakan mineral yang terbentuk dari kombinasi unsur tertentu dengan gugus anion oksida (O2-) dan gugus hidroksil hidroksida (OH-).
a.OKSIDA
Mineral oksida terbentuk sebagai akibat persenyawaan langsung antara oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana dibanding silikat. Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali silikat. Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama dalam oksida adalah besi, chrome, mangan, timah dan aluminium. Beberapa mineral oksida yang paling umum adalah, korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2).
b.HIDROKSIDA
Seperti mineral oksida, mineral hidroksida terbentuk akibat pencampuran atau persenyawaan unsur-unsur tertentu dengan hidroksida (OH-). Reaksi pembentukannya dapat juga terkait dengan pengikatan dengan air. Sama seperti oksida, pada mineral hidroksida, unsur utamanya pada umumnya adalah unsur-unsur logam. Beberapa contoh mineral hidroksida adalah Manganite MnO(OH), Bauksit [FeO(OH)] dan limonite (Fe2O3.H2O).
Mineral oksida terbentuk sebagai akibat persenyawaan langsung antara oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana dibanding silikat. Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali silikat. Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama dalam oksida adalah besi, chrome, mangan, timah dan aluminium. Beberapa mineral oksida yang paling umum adalah, korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2).
b.HIDROKSIDA
Seperti mineral oksida, mineral hidroksida terbentuk akibat pencampuran atau persenyawaan unsur-unsur tertentu dengan hidroksida (OH-). Reaksi pembentukannya dapat juga terkait dengan pengikatan dengan air. Sama seperti oksida, pada mineral hidroksida, unsur utamanya pada umumnya adalah unsur-unsur logam. Beberapa contoh mineral hidroksida adalah Manganite MnO(OH), Bauksit [FeO(OH)] dan limonite (Fe2O3.H2O).
4. KELOMPOK HALIDA
Kelompok ini dicirikan oleh adanya dominasi dari ion halogenelektronegatif, seperti: F-, Cl-, Br-, I-. Pada umumnya memiliki BJ yang rendah (< 5).Contoh mineralnya adalah: Halit (NaCl), Fluorit (CaF2), Silvit (KCl), dan Kriolit (Na3AlF6).
5. KELOMPOK KARBONAT
Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2-, dan disebut “karbonat”, umpamanya persenyawaan dengan Ca dinamakan “kalsium karbonat”, CaCO3 dikenal sebagai mineral “kalsit”. Mineral ini merupakan susunan utama yang membentuk batuan sedimen.
Carbonat terbentuk pada lingkungan laut oleh
endapan bangkai plankton. Carbonat juga terbentuk pada daerah evaporitic dan
pada daerah karst yang membentuk gua (caves), stalaktit, dan stalagmite. Dalam
kelas carbonat ini juga termasuk nitrat (NO3) dan juga Borat (BO3).
Beberapa contoh mineral yang termasuk kedalam kelas carbonat ini adalah dolomite (CaMg(CO3)2, calcite (CaCO3), dan magnesite (MgCO3). Dan contoh mineral nitrat dan borat adalah niter (NaNO3) dan borak (Na2B4O5(OH)4.8H2O).
6. KELOMPOK SULFAT
Sulfat terdiri dari anion sulfat (SO42-). Mineral sulfat adalah kombinasi logam dengan anion sufat tersebut. Pembentukan mineral sulfat biasanya terjadi pada daerah evaporitik (penguapan) yang tinggi kadar airnya, kemudian perlahan-lahan menguap sehingga formasi sulfat dan halida berinteraksi.
Pada kelas sulfat termasuk juga mineral-mineral molibdat, kromat, dan tungstat. Dan sama seperti sulfat, mineral-mineral tersebut juga terbentuk dari kombinasi logam dengan anion-anionnya masing-masing.
Contoh-contoh mineral yang termasuk kedalam kelas ini adalah barite (barium sulfate), celestite (strontium sulfate), anhydrite (calcium sulfate), angelsit dan gypsum (hydrated calcium sulfate). Juga termasuk didalamnya mineral chromate, molybdate, selenate, sulfite, tellurate serta mineral tungstate.
7. KELOMPOK PHOSPHAT
Kelompok ini dicirikan oleh adanya gugus PO43-, dan pada umumnya memiliki kilap kaca atau lemak, contoh mineral yaitu:Apatit (Ca,Sr, Pb,Na,K)5 (PO4)3(F,Cl,OH),Vanadine Pb5Cl(PO4)3,dan Turquoise CuAl6(PO4)4(OH)8 . 5H2O.
8.KELOMPOK SILIKAT
Silicat merupakan 25% dari mineral yang dikenal dan 40% dari mineral yang dikenali. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan (metamorf). Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.
1.Quartz (SiO2)
2.Feldspar Alkali (KAlSi3O8)
3.Feldspar Plagioklas ((Ca,Na)AlSi3O8)
4.Mica Muscovit (K2Al4(Si6Al2O20)(OH,F)2)
5.Mica Biotit (K2(Mg,Fe)6Si3O10(OH)2)
6.Amphibol Horblende ((Na,Ca)2(Mg,Fe,Al)3(Si,Al)8O22(OH))
7.Piroksin ((Mg,Fe,Ca,Na)(Mg,Fe,Al)Si2O6)
8.Olivin ((Mg,Fe)2SiO4)
Nomor 1 sampai 4 adalah mineral non-ferromagnesium dan 5 hingga 8 adalah mineral ferromagnesium.
BAB
III
LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI MINERAL
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
BAB
IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Mineral
adalah suatu senyawa anorganik yang terbentuk di alam, bersifat homogen, dengan
komposisi kimia terbatas dan sifat fisika tertentu.
2. Beberapa
sifat fisik mineral adalah : warna, kilap, bentuk Kristal, belahan, kekerasan,
berat jenis, pecahan dan cerat.
B.
SARAN
Saran
yang dapat saya sampaikan yaitu buku penuntun yang diberikan agar kiranya
mempunyai materi yang lebih lengkap, sehingga memudahkan praktikan untuk
mendeterminasi mineral.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Batuan beku adalah batuan yang
terbentuk oleh hasil pembekuan magma, yang tersusun oleh mineral atau
kristal-kristal dalam bentuk agregasi yang kompak dan saling interlocking.
Kompak disini dapat diartikan sbagai susunan mineral atau kristal-kristal yang
saling tumbuh, sehingga tidak memperlihatkan adanya ruang atau pori diantara
mineral atau kristal-kristal penyusun batuan. Kalaupun ditemukan pori-pori, itu
hanya bekas-bekas gas yang keluar atau terjebak pada waktu pembekuan magma.Magma
adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara alamiah dan
bersifat mobile. Temperatur yang tinggi dari magma (900-1600°C) memberikan suatu perkiraan bahwa
magma berasal dari bagian yang dalam di kerak bumi. Suatu magma biasanya terdiri
dari unsure O, Si, Al, Fe, Ca, Mg, Na, dan K tetapi juga mengandung senyawa H2O
dan CO2 serta beberapa komponen gas H2S, HCl, CH4
dan CO.
Jenis-jenis batuan beku yang
terbentuk, masing-masing dicirikan oleh komposisi mineral yang berbeda, sesuai
dengan komposisi magma dan temperatur pembekuannya. Komposisi mineral yang
terjadi pada setiap jenis batuan beku yang terbentuk bisa terdiri dari berbagai
macam mineral logam maupun non logam. Komposisi asal dari pada larutan magma
serta kondisi-kondisi tertentu yang mempengaruhi proses pendinginan magma
dapatmenghasilkan jebakan endapan mineral yang ekonomis.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud daripada praktikum ini
adalah untuk dapat mengamati dan mendeterminasi batuan beku berdasarkan warna,
tekstur batuan, struktur batuan, dan komposisi/komponen penyusun.
Tujuan daripada
praktikum ini adalah agar praktikan dapat :
1. Mengetahui cara
mendeterminasi batuan beku berdasarkan sifat fisikdan komponen penyusunnya.
2. Menentukan jenis serta nama batuan
berdasarkan sifat fisik dan komponen penyusun yang telah diketahui.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Proses Terbentuknya Batuan Beku
Batuan
beku atau batuan igneus (dari Bahasa
Latin: ignis,
"api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras,
dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai
batuan intrusif (plutonik) maupun di atas
permukaan sebagai batuan ekstrusif(vulkanik). Magma ini dapat berasal
dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik dimantel ataupun kerak bumi.
Umumnya,
proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikantemperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih
dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar
terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.
Magma
dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku
di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam
atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan
beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian
membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif.
Menurut
para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda
(1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk
secara alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile
(dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma
tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2,
chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab
mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral
yang lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada
saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka
mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa
penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh
NL. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.
B.
Struktur Batuan Beku
Struktur
Batuan beku merupakan kenampakan/bentuk dari susunan batuan beku meliputi:
- Struktur
Massive adalah susunan mineral-mineral yang tersusun secara kompak dalam suatu
batuan, tidak menunjukkan adanya pori-pori penjajaran mineral atau bentuk
aliran.
- Struktur
akibat pelepasan bahan volatile,terdiri dari:
a. Vesiculer ; Strukrur
yang memperlihatkan adanya lubang-lubang akibat pelepasan gelembung-gelembung
gas dari magna
b. Amygdaloid
yaitu struktur vesiculer dimana lubang-lubang telah diisi oleh mineral-mineral
sekunder.
- Struktur permukaan dari fase
larutan,meliputi:
a. Xenoli
yaitu struktur yag memperlihatkan adanya batuan asing dalam suatu batuan.
b. Xenocrys
yaitu kenempaka adaya mineral-mineral asing dalam suatu batuan.
c. Pillow
yaitu kenampaka speroidal tipis tak menerus atau pengumpulan dati ellipsoidal- ellipsoidal seperti bantal.
- Struktur permukaan meliputi:
a. Corona
Structure disebut juga reaction rim:struktur yang terjadi karena adanya reaksi
kimia pada sisi Kristal.
b. Flow
Effecs meliputi ,Trachytoid,fluidakl,Schieren
c. Microlitic
struktur yaitu kenampakan adanya lubang-lubang menyudut/runcing dalam ukuran
kecil pada batuan phaneritik.
- Struktur setelah terjadi
pembentukan magma meliputi :
a. perlitik
struktur.
b.spereulitic
struktur.
c.Orbicular
sturktur.
C. Klasifikasi Batuan Beku
1.
Klasifikasi Berdasarkan Tempat Terbentuknya
a.Batuan beku dalam (plutonik rocks)
Merupakan magma
yang membeku didalam bumi sehingga membentuk batua beku intrusi atau batuan
beku plutoik .
b.Batuan
Beku Korok ( Plutonic Rocks )
Merupakan
batuan beku yang membeku dekat dengan permukaan bumi
c. Batuan beku Lelehan (
Vulcanik Rocks )
Merupakan
batuan beku yang tebentuk pada permukan bumi.
2.
Klasifikasi berdasarkan sifat kimia dan komposisi mineralnya:
a. Batuan beku asam
b. Batuan
beku intermediate
c. Batuan beku basa
d. Batuan beku ultrabasa
1.
Batuan Beku Asam
Kenampakan dari batua ini
memperlihatkan warna terang atau keputihan, kadang merah keabu-abuan atau abu-abu
terang. Ukuran butir-butir kasar, bahkan dapat butiran yang sangat halus
menyerupai kaca seperti opsidion, akibat pembekuan yang sngan lambat. Selain
selain itu dpat juga ditemukan butiran yang sangat kasar seperti pegmatit.
Batuan beku asam dapat di temukan dalam bentuk Batolith,Laccolit, Lapolith dan
intrusi yang besar karena sifat kekentalan magmanya yang tinggi, sehingga tidak
bisa melalui celah-celah yang sempit dalam bentuk dyke atau sill. Cirri khas
dari batuan beku asam adalah kelimpahan dari potash feldspar disbanding jenis
plagioklas. Temperatur pembekuan batuan beku asam sekitar 800 C. Kondisi ini
kebanyakan tidak mampu melarutkan batuan sampingnya, sehingga tingkat proses
asimilasi yang terjadi kecil. Sebaliknya banyak ditemmukan xenoliths terutama
pada tepi tubub batuan beku luarnya. Yang termasuk batuan beku asam yaitu :
Granit, Aplit,Pekmatit,Riolit ,Osidian, Pumis, Sienit, daan Trakit.
2.
Batuan Beku Intermedit
Batuan beku intermedit bewarna agak
lebih gelap daripada batuan beku asam yaitu abu-abu hingga abu-abu
kehitaman.Mempunyai ukuran butir halus sampai kasar. Bentuk intrusi dari abtuan
beku intermedit ini kebanyakan termasuk Laccolith,Lapollith,Dyke dan
sill.Bentuk –bentk intrusi dikontrol oleh kekentalanmagmanya yang menengah.
Sebagian dapat melalui cela-cela yang agak sempit dalam bentuk dyke atau sill.
Komposisi jenis-jenis feldspar sudah
mulai adanya perimbangan antara potash feldspar dan plagioglas.Temperatur
pembekuan sekitar 900 C, proses asimilasi mulai Nampak dan dapat ditemukan
xenoliths-xenolith sifatnya basah pada tepi tubuh intrusi atau pada batuan beku
luarnya.
Berdasaarkan perbandingan
jenis-janis feldsparnya, maka batuan beku intermedit dibagi dalam 2 (dua)
golongan yaitu :
1. Batuan dengan komposisi potash
feldspar dan plagioklas hamper sama ; terdiri dari granodiorit –
andamelit-monzonit dan latit- dasti.
2. Batuan dengan komposisi
plagioglas lebih dominan dari pada potash feldspar,terdiri dari :
diorite-tonalit dan andesit-dasit.
Batuan
beku intermedit paling banyak memperlihatkan pelapukan speroidal, karena
banyak mengandung mineral feldspar . Lebih lagi apabila batuan ini telah
mengalami kenaikan tekanan temperature. Mineral-mineral feldspar yang telah
mengalami pelapukan tersebut dapat menjadi mineral – mineral kaolin. Baik
gejala speroidal maupun kaolinisasi dapat ditemukan pada batuan beku intermedit
yang telah mengalami pensesaran.
3.
Batuan Beku Basa
Batuan
beku basa memperlihatkan warna gelap hitam olwh mineral-mineral ferromagnesian
dan mineral-mineral plagioglas basa. Ukuran butir dari batuan ini adalah
halus hingga kasar.batuan basa dalam bentuk intrusi kebanyakan dyke,sill,
apophyse dan lelehan. Bentuk intrusi tersebut berhubungan dengan sifat magmanya
yang memiliki kekentalan rendah ( encer ) sehingga dapat memasuki celah –
celah sempit atau dapat berupa lelehan yang luas dipermukaan. Pada
permukaan batuan beku luar dari batuan beku basa ini , kadang
ditemukan vesiculasi- vesiculasi sebagai kesan bahan-bahan volatil.
batuan beku basa sering pula memberikan bentuk permukaan seperti susunan balok
atau pahoe-pahoe, yang terbentuk pada pembentukan magma yang encer. Sedangkan
magma yang kental atau asam biasanya membentk seperti susunan tali atau ropy.
Temperatur
pembekuan dari batuan beku basa sekitar 1000…C, dimana dapat terjadi proses
asimilasi dengan baik apabila batuaan sampingnya lebih asam.meskipun demikian,
kadang masih dapat ditemukan xenolith dari batuan yang sama atau yang beku basa
( ultra mafic ). Disekitar penyebaran batuan beku basa, ditemukan di
tempat-tempat batuan intermediate dengan penyebaran kecil sebagai akibat hasil
asimilasi magma basa dengan batuan samping yang bersipat asam atau dapat pula
terbentuk melalui proses differensiasi magma, biasanya dapat ditemukan pada
bagian tepi dan atas tubuh intrusi batuan beku basa. Termasuk batuan beku basa
adalah Gabro, Diabase, Basal dan Trachyte.
4. Batuan
Beku Ultrabasa
Batuan
beku ultra basa adalah batuan yang tersusun oleh mineral-mineral
ferromagnesium sehingga kenampakannya sangat gelap atau hitam. Batuan ini mudah
lapuk terhadap air hujan seperti halnya Batu gamping karena sifatnya yang tidak
tahan terhadap kondisi asam. Kenampakannya hampir sama dengan permukaan
batugamping dengan lubang-lubang atau torehan air hujan. Bentuk dan tipe
dari tubuh batuan beku ultrabasa belum dapat diketahui dengan jelas
karena batuan merupakan batuan dasar samudra yang umurnya lebih tua.
Kehadiran
suatu singkapan ultrabasa didaerah kontinen sangat berkaitan erat dengan
gerak – gerak tektonik masa lampau didaerah tersebut dan biasanya batuan ini
berasosiasi dengan batuan metamorf dan batuan sedimen tua. Kehadiran
ultrabasa ini biasanya diakibatkan oleh obduksi, sehingga banyak memberikan
batas litologi dan sona sesar naik. Sebagai aki bat aktivitas tektonik, batuan
ultrabasa banyak mengalami penghancuran atau penggerusan, kekar-kekar dan
metamorfisme dinamik yang disertai dengan proses kloritisasi, serpentinisasi,
dan lain-lain.
Temperatur
pembekuan batuan beku ultrabasa adalah diatas 1000…C dan secara teoritis
prosses asimilasi berjalan sempurna. Oleh karena kondisi pembekuan batuan beku
ultrabasa paada kedalaman dan tekanan yang besar, serta urutan kristalisasi
dari mineral penyusunnya yang mengkristal dengan tingkat kristalisasi yang
relative sama sehingga bentuk Kristal dari baatuan beku ultrabasa adalah
anhedral-subhedral. Pada batuan ini tidak ditemukan mineral feldspar lagi.
Yang
termasuk batuan beku ultrabasa adalah sebagai berikut :
Dunit, yaitu batuan beku plutonik dengan
komposisi 90 % Olivin.
Peridotit, yaitu batuan beku plutonik dengan
komposisi piroksin dan olivin ( 10 – 50 % ).
Piroksenit, yaitu batuan beku plutonik
dengan komposisi 90 % pirokksin.
Limburgit, yaitu batuan beku lelehan dari
batuan ultrabasa dengan tekstur afanitik.
METODE 3 TITIK
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
MATA KULIAH KARTOGRAFI
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Mineral pembentuk batuan beku
ditentukan oleh komposisi kimia yang
pembentuknya seperti halnya batuan beku yang mempunyai variasi sangat
besar.
2. Faktor terpenting yang mempengaruhi
tekstur batuan beku adalah tingkat kecepatan pembekuan magma.
3. Sebagai panduan dalam mendeterminasi
batuan beku harus di sesuaiakan dengan tabel klasifikasi menurut RUSSEL B.
TRAVIS
B.
SARAN
Saran
saya adalah sangat diharapkan partisipasi baik dari asisten maupun praktikan
agar lebih mampu mengutamakan kepentingan lab, demi kemajuan bersama.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Batuan sedimen merupakan batuan yang terbentuk melalui
proses sedimentasi baik secara fisika maupun secara kimia dan organic. Pada
sebagian sedimen organic dapat terbentuk melalui proses diagenesis
langsung terhadap bahan-bahan organisme seperti pada pembentukan batugamping
terumbu. Proses fisika yang berlangsung selama sedimentasi melalui proses
perombakan batuan induk, transportasi, perubahan-perubahan sifat fisik material
rombakan, pengendapan, kompaksi, dan untuk derajat litifikasi harus disertai
dengan proses kimiawi, yaitu proses diagenesis dan sementasi. Poses kimiawi
dapat berlangsung bersamaan dengan proses fisika dan dapat pula bekerja secara
terpisah seperti pada pembentukan mineral-mineral dari hasil proses fisika dan
dapat pula bekerja secara terpisah seperti pada pembentukan mineral-mineral
dari hasil proses atau reaksi kimia yang menyusun batuan
sedimen.
Batuan sedimen yang terbentuk melalui proses sedimentasi
mempunyai suatu kenampakan yang berbeda dengan batuan lainnya. Bentuk dan
coraknya memberikan kenampakan pencerminan adanya kesan pengendapan selama
pembentukannya. Pembentukannya secara pelan dan bertahap dengan urutan susunan
yang teratur dapat memberikan suatu ciri yang khas dengan struktur perlapisan
yang bervariasi.
B.
Maksud Dan Tujuan
Adapun maksud daripada praktikum ini adalah untuk
mendeterminasi batuan sedimen berdasarkan tekstur, struktur, dan komposisi
mineral penyusunnya.
Tujuan praktikum ini adalah agar dapat : mendeterminasi
batuan sedimen berdasarkan sifat fisik dan komponen penyusunnya dan menentukan jenis serta nama batuan
berdasarkan sifat fisik dan komponen penyusunnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Proses Terbentuknya
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari
pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport
dan terendapkan kemudian terlithifikasi.
Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi.
Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen
kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses
inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut
ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan
lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi
dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada
ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari
sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.
Batuan sedimen merupakan merupakan batuan yang
terbentuk melalui proses sedimentasani baik secara fisik maupun secara
kimia atau organic.pada sebagian sedimen organic seperti pada pembentukan
batu gamoing tertumbu. Proses pisika berlang sung selama sedimentasi meliputi
perombakan , penggndapan kompaksi dan selanjutnya diikuti oleh proses
diagenesis dan sementasi.
Batuan sedimen yang terbentuk melalui proses sedimentasi
memilik kenampakan yang berbeda dengan batuan lainnya.Bentuk dan teksturnya
mencerminkan adanya kesan pengendapan selama pembentukannya. Factor yang
berperan dalam pembentukan batuan sedimen adalah aspen mekanik,kimiawi dan
biologis.Dalam hal ini akan dibahas secara terpisah dalam dua kelompok, yaitu
sumber material sedimen dan lingkunga pengendapan.
Adapun
sumber-sumber material sedimen adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas vulkanik,yaitu material
klastik atau rombakan yang dikeluarkan oleh aktifitas vulkanisme sebagai bahan
piroklastik berupa bomb,bloc,lapili da debu-debu vulkanik serta material
piroklastik lainnya.
b. Pelapukan mekanik, hasil perombakan
melalui pelapukan mekanik terhadap singkapan suatu batuan akan mengalami transportasi
kemudian terakumulasi pada suatu cekungan,kemudian terjadi kompaksi,diagenesis
sementasi dan litifikasi.
c. Larutan - larutan dalam air, berupa
garam-garaman yang hancur dan lapuk baik di darat mapun dilaut pada
kondisi tertentu dapat terjadi reaksi kimia.\
d. Material organic, yaitu sisa mahluk
hhidup yang mati kemudian terendapkan dalam batuan.
SKALA WENWORT
|
Diameter (mm)
|
Partikel/Fragmen
|
Material Lepas
|
Material tersemen
|
|
>256
64 – 256
4 – 64
2 – 4
|
Boulder/ Bongkah
Cobble
Pebbel
Granule
|
Boulder Gravel
Cobble Gravel
Pebbel Gravel
Granule Gravel
|
Konglomerat
Granule Konglomerat
|
|
1 – 2
0,5 – 1
0,25 – 0,5
0,125 – 0,25
0,0625 – 0,125
|
Btr pasir sangat kasar
Btr pasir kasar
Btr pasir sedang
Btr pasir halus
Btr pasir sangat halus
|
Pasir sangat kasar
Pasir kasar
Pasir sedang
Pasir halus
Pasir sangat halus
|
Batu pasir sangat kasar
Batu pasir kasar
Batu pasir sedang
Batu pasir halus
Batu pasir sangat halus
|
|
0,004 – 0,0625
<0,004
|
Partikel Lanau
Partikel Lempung
|
Lanau ( Silt )
Lempung ( Clay )
|
Batu Lanau
Batu Lempung
|
Susunan Butir
Pemilahan
(Sortasi)
Adalah
merupakan penyeleksian ukuran butir, atau keseragaman antar butir penyusun
batuan sedimen. Sortasi
terbagi atas:
Sortasi baik,
jika ukuran materialnya relative sama (seragam).
Sortasi jelek,
bila ukuran butir bervariasi dengan range (perbedaan) butir sangat besar.
Derajat
pembundaran (Roundnes)
Derajat
pembundaran suatu partikel yang kita amati adalah sudut permukaannya, yang
terbagi atas:
Sangat bulat (well rounded)
Membulat (rounded)
Agak bulat (subrounded)
Agak runcing (subangular)
Meruncing (angular)
Kemas
Yaitu
keterikatan antara partikel-partikel penyusun batuan. Jenis kemas terdiri atas
dua istilah:
Kemas tertutup
jika keterrikatan antara partikel-partikel kuat atau massive.
Kemas terbuka
jika keterikatan partikel-partikel mudah lepas.
Komposisi mineral
Butir/fragmen merupakan
komponen-komponen besar dalam batuan, nampak seperti fenokris pada batuan beku.
Matriks, merupakan komponen-komponen
yang lebih halus dan sebagai penyusun utama batuan sedimen (massa dasar).
Semen, merupakan hasil dari larutan
kimia yang sering mengalami kristalisasi. Antara lain; Karbonat (kalsit),
Silika (kuarsa) dan oksida besi.
B. Tekstur Batuan
Sedimen
Tekstur batuan sedimen non klastik
-
Amorf
- Kristalin
Tekstur batuan sedimen klastik didasarkan
pada
-
Ukuran Butir
-
Bentuk Butir
-
Sususnan Butir/komposisi
C. Struktur Batuan Sedimen
Struktur
batuan sedimen dikelompokan menjadi 2 yaitu strktur berlapis dan tidak
berlapis. Struktur berlapis terjadi karena perbedaan warna batuan sedimen,
perbedaan ukuran butir, perbedaan kompaksi mineral, dan perbedan sifat fisika
dan kimia.
Klasifikasi
struktur sedimen berdasarkan ganesanya dibagi menjadi 2 yaitu syngenetik dan
epigenetic.
-
Syngenetik yaitu struktur sediment yang terbentuk selama sedimentasi
berlangsung, biasa disebut pula struktur primer.
-
Epygenetik adalah strutur sedim en yang terjadi setelah batuan sedimen
terbentuk.
D. Klasifikasi Batuan Sedimen
a)
Sedimen yang berasal dari hasil transportasi material padat yang berasal dari
pelapukan batuan lain yang terbentuk dari akumulasi fragmen-fragmen atau
butiran-butiran mineraldari berbagai macam type, endapan ini dikenal dengan
nama detrial dan batuannnya disebut batuan sedimen detrial atau batuan
sedimen Klastik.
b)
Sedimen yang
berasal dari material yang larut sebagai hasil pelapukan kimia, atau batuan
sedimen yang terbentuk dari proses-proses kimia, seperti evaporasi dan
laterisasi. Batuan
sedimen ini biasa disebut batuan sedimen Non Klastik.
c)
Ada juga batuan sedimen non klastik yang terbentuk dari bagian-bagian organic
baik hewan maupun tumbuhan, yang dikenal dengan sedimen organik.
BAB
III
LAPORAN
LENGKAP DETERMINASI BATUAN SEDIMEN
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah kelompok kami melakukan
praktikum di laboratorium maka kami dapat menarik kesimpulan tentang batuan
sedimen antara lain :
·
Tekstur batuan sedimen terbagi menjadi 2 yaitu Klastik dan
Nonklastik
·
Klasifikasi struktur sedimen ganesanya dibagi menjadi 2
yaitu syngenetik dan epigenetik.
Dalam derajat pembudaran/roundness
batuan sedimen dibagi menjadi 6 yaitu:
ü Wellrounded
ü Rounded
ü Subrounded
ü Subangular
ü Angular
ü Verryangular
B. SARAN
Saran
saya adalah diharapkan pada setiap kali percobaan praktikan dan asisten mampu
mematuhi segala aturan yang telah dibuat, agar dalam melakasanakan praktikum mendapatkan
hasil yang lebih maksimal.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Batuan metamorf adalah batuan beku, sedimen ataupun metamorf, yang telah
mengalami metamorfisme, yaitu perubahan fisik, dan kimia batuan yang
diakibatkan oleh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Perubahan fisik dalam wujud batuan atau kristal, yang mana berubah bentuk
diakibatkan oleh kenaikan tekanan. Perubahan kimia terjadi dari pengaruh
kenaikan temperatur, sehingga komposisi mineral-mineral akan berubah, baik
dalam bentuk ubahan, raplacemen, addisi dan lain-lain, seperti perubahan
mineral-mineral ferromagnesium menjadi klorit.
Perubahan yang terjadi dalam proses metamorfisme dapat diakibatkan oleh
kenaikan temperatur, tekanan dan aktifitas larutan kimia, melalui proses
rekristalisasi tanpa melalui fase cair. Karena apabila fase ini telah mencapai
fase cair, maka keadaan tersebut telah berubah menjadi proses kristalisasi
dalam pembentukan batuan beku.
Suatu kenampakan lapangan yang menarik pada batuan metamorf yaitu
memperlihatkan foliasi dan penjajaran mineral-mineral penyusuunnya yang berbeda
dengan batuan lainnya. Foliasi yang ditimbulkan oleh proses metamorfisme,
banyak dikontrol oleh tekanan yang kuat, sehingga terjadi perubahan bentuk
mineral menjadi pipih dan terarah membentuk bidang/lapisan foliasi. Tanpa
pngamatan seksama, maka seringkali terjadi kekeliruan terhadap penentuan
foliasi dengan struktur lapisan dan cermin sesar. Foliasi yang kuat dapat
lepas-lepas menjadi suatu bidang lembaran-lembaran batuan melalui arah
penjajaran mineral pipihnya yang berbeda dengan lapisan sedimen.
B.
MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud daripada praktikum ini adalah untuk
mendeterminasi batuan metamorf berdasarkan tekstur, struktur, dan perubahan
yang terjadi pada mineral penyusunnya.
Tujuan praktikum ini adalah agar praktikan dapat :
1. Mendeterminasi batuan metamorf
berdasarkan sifat fisik dan komponen penyusunnya.
2. Menentukan
jenis serta nama batuan berdasarkan sifat fisik dan komponen penyusun yang
telah diketahui.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PROSES TERBENTUKNYA
Batuan metamorf adalah
jenis batuan yang secara genetis terebntuk oleh perubahan secara fisik dari
komposisi mineralnya serta perubahan tekstru dan strukturnya akibat pengaruh
tekanan (P) dan temperature (T) yang cukup tinggi. Kondisi-kondisi yang harus
terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:
· Terjadi dalam suasana padat
· Bersifat isokimia
· Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas
metamorfosa
· Terbentuknya tekstur dan struktur baru.
Proses metamorfosa
diakibatkan oleh dua faktor utama yaitu Tekanan dan Temperatur (P dan T). Panas
dari intrusi magma adalah sumber utama yang menyebabkan metamorfosa. Tekanan
terjadi diakibatkan oleh beban perlapisan diatas (lithostatic pressure) atau
tekanan diferensial sebagai hasil berbagai stress misalnya tektonik stress (differential
stress). Fluida yang berasal dari batuan sedimen dan magma dapat
mempercepat reaksi kima yang berlangsung pada saat proses metamorfosa yang
dapat menyebabkan pembentukan mineral baru. Metamorfosis dapat terjadi di
setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling umum dijumpai pada daerah kovergensi
lempeng.
Batuan metamorf adalah batuan ynag
terbentuk atau berasal dari batuan Yang telah ada sebelumnya yang mengalami
proses metamorfisme yaitu peerubahan fisik dan kimia batuan akibat pengaruh
temperatur dan tekanan yang tinggi.
Adapun proses-proses metamorfisme
yang terjadi adalah metamorfisme kontak, metamorfisme dinamik dan metamorfisme
regional.
1.
Metamorfisme kontak
Metamorfisme
kontak adalah suatu prose metamorfisme yang terjadi akibat penerobosan magma. Faktor yang paling
berpengaruh adalah temperatur,sdangkan tekanan kurang berpengaruh. Sifatt
batuan dari metamorfisme kontan menunjukkan perubahan kimia yang menonjol,
struktur kurang berfosil, tekstur kurang teratur dan penyebarannya mengikuti
zonaintrusi.
2.
Metamorfisme Dinamik
Metamorfisme dinamik terbentuk oleh adanya pergeseran atau dislokasi lapisan
bumi. Faktor yang paling berperan adalah perubahan tekanan . pembentukan
kekar, sesar atau lipatan oleh gerak tektonik dapat memicu terjadinya
proses metamorfisme dinamik.
3.
Metamorfisme regional
Metamorfisme regional berkembang
pada daerah yang luas dan oleh pengaruh tekanan dan temperatur yang tinggi
berhubungan dengan gerakan lempeng, baik secara tektonik maupun non
tektonik.pengaruh tekanan dan temperatur yang tinggi dapat membentuk
mineral-mineral tekanan ( stress minerals) seperti serisit, muscovite, stourolit
dan lain-lain. Metamorfisme regional dapat dikenal berdasarkan tekanan dan
temperatur pembentukannya.
B. TEKSTUR BATUAN METAMORF
Tekstur
batuan metamorf dibagi dalam 4 golongan yaitu:
-
Kristaloblastik
Adalah tekstur yang memperlihatkan adanya
perubahan bentuk/komposisi mineral sehingga teksdtur sehingga tekstur asal
tidak terlihat lagi, dan dapat dibedakan:
Idioblastik : Sebagian besar mineral penyusunnya bersifat idiomorf.
Xenoblastik
: Sebagian mineral penyusunnya
bersifat xenomorf.
Lepidoblastik
: Umumnya mineral penyusunnya berbentuk
pipih.
Nematoblastik : Mineral penyusunnya berbentuk prismatic.
Granoblastik
: Mineral penyusunnya bersifat
equidimensional.
Porphyroblastik:
Tekstur kristaloblastik yang bersifat porfiritik.
Mosaictekstur
:Tekstur equidimensional atau equigranular, mineral pembentuk polygonal.
Poikiloblastik
: Tekstur yang mineral penyusunnya
bersifat poikilitik.
Decussate
tekstur : Tekstur kristaloblastik dari polimineral serabut dengan orientasi
Kristal yang tak teratur seperti pada anthopolit shirt.
-
Tekstur Sisa
Tekstur ini bisa juga diebut palimset
tekstur yaitu tekstur yaitu tekstur yang masih memperlihatkan tekstur batuan
asalnya.
Blstoporfiritik : tekstur sisa yang bersifat
porfiritik
Blastoposefiritik : Tekstur sisa yang bersifat
psepfiritik
Blastofitik
: tekstur sisa yang bersifat ofitik saling
memasuki.
Blastofiliktik
: Tekstur sisa yang bersifat lempung
Blastosamatik
: Tekstur sisa yang bersifat pasir
-
Marculose tekstur
Adalah tekstur pada batu sabak yang
memperlihatkan adanya bintik-bintik.
-
Fokoidal tekstur
Tekstur yang memperlihatkan adanya matriks
yang berbentuk lensa.
C. Struktur Batuan Metamorf
Struktur
batuan metamorf adalah kenampakan dari bentuk susunan orientasi mineral-mineral
berupa bidang atau garis atau bentuk orientasi poligogranular dari
mineral-mineral dalam batuam metamorf.
Struktur
batuan metamorf dapat dibagi atas :
- Struktur
Foliasi
Suatu kenampakan dari batuan yang
pecah-pecah menurut bidang yang sejajar dengan permukaan mineral, akibat
perbedaan sifat dari mineral itu sendiri.
- Struktur
Unfoliasi
Struktur yang memperlihatkan adanya
mineral pipih, tetapi menunjukan agregasi dari mineral equidimensional atau
butiran.
D. Klasifikasi Batuan Metamorf
1.
Batuan metamorf Foliasi
Batu
sabak merupakan batuan metamorf yang berbutir halus dan disusun terutama oleh
mineral mika. Batuan ini menunjukan belahan batuan yanf sangat bagus, karena
sifat fisiknya yang dapat membelah menjadi batuan yang pipih, maka batu sabak
sering digunakan sebagai atap, lantai, papan tulis, dan sebagainya. Batu sabak
terbentuk dari serpih yang mengalami proses metamorfisme tingkat. Kadang-kadang
batuan ini juga terbentuk dari batuan vulkanik yang berbutir halus. Warna batu
sabak bervariasi tergantung pada kandungan mineral batuan asalnya.Batu sabak
yang berwarna hitam berasal dari serpih yang banyakmengandung material organic
, sedangkan berwarna merah berasal dari batuan yang banyak mengandung oksida
besi. Batu sabak yang berwarna hijau berasal dari serpih yang banyak mengandung
klorit. Mineral yang menyerupai mika pada batu sabak terbentuk dari
mineral Fe silikat. Karena batu sabak terbentuk pada proses metamorfisme
tingkat rendah, maka bidang perlapisan batuan kadang masih terlihat. Orientasi
belahan batuan pada batu sabak pada umumnya cenderung memotong perlapisan
batuan asal.
2.
Batuan Metamorf Unfoliasi
Merupakan
batuan metamorfisme yang tidak memperlihatkan adanya struktur foliasi tetapi
tersusun oleh mineral-mineral bentuk prismatic, butiran yang equidimensional.
Contoh Hornfels, Granulite, Marmer, skarn, Silicified, kuarsit, Buchites.
3.
Batuan Metamorf kataklastik
Batuan
ini berasal dari hasil mekanik (Kinetik).
BAB III
LAPORAN LENGKAP DETERMINASI BATUAN
METAMORF
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Proses metamorfisme adalah proses perubahan batuan
yang sudah ada menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperature
yang besar.
2. Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan
batuan mengalami perubahan yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan
tersebut terbentuk, sehingga batuan tidak menjadi stabil.
3. Proses metamorfisme sering terjadi pada salah satu
dari tiga fenomena pembentukan batuan metamorf.
B. SARAN
Untuk peningkatan kualitas praktikum
di LAB Geologi di masa mendatang, kami menyarankan :
Agar pelaksanaan praktikum
berikutnya tidak dilaksanakan dengan waktu yang terlalu sempit dengan masa
akhir semester agar peserta praktikan memiliki waktu yang cukup dalam
penyusunan laporan.
1. SIKLUS
BATUAN (ROCK CYCLE)
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis
batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan
tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa
berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi
menjadi partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya
juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh
menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Semua ini disebut
siklus batuan atau ROCK CYCLE.
Gambar
siklus batuan
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami
pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:
1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke
dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat
rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses
fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil
lagi.
2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah “hujan asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia.
3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut
akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah
tempat. Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi.
Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
1.
Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada
bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai
akhirnya terkumpul di permukaan tanah
2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.
3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat
terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan
berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka
pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut
proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan
secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru
kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan
ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan
sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk,
tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat
pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada
dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan
yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula,
partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti
lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat
partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut
sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan
yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan
sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung,
dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan,
butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya
fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses
erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada
sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat
mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses
metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme.
Tingkat proses metamorfisme yang terjadi tergantung dari:
1. Apakah batuan yang ada
terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
2. Apakah batuan tersebut
mengalami perubahan bentuk.
3. Berapa lama batuan
yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi,
kemungkinan batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini
karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam.
Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya,
maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang
ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini
juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma
yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi
untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.
Kadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi
melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus
permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic
eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk
dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan
pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan
yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada.
Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan ciri-ciri berikut:
1.
Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar
ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga
mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu
untuk dapat berkembang.
2.
Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk
akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut “gas bubble”.
Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat
tinggi sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur
dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang
relatif dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada
mengalami proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal
mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif
dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton
terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di
Sierra Nevada – USA yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabbro
juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat
proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku
intrusif memperlihatkan ciri-ciri berikut:
1.
Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke
permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga
mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk
dapat berkembang.
2.
Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif
memperlihatkan angular interlocking. Proses-proses inilah semua yang terjadi
dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini
menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
DETERMINASI MINERAL
(PERCOBAAN
I)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI MINERAL
(PERCOBAAN
II)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN BEKU
(PERCOBAAN
III)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN BEKU
(PERCOBAAN
IV)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN BEKU
(PERCOBAAN
V)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN SEDIMEN
(PERCOBAAN
VI)
OLEH :
NAMA
STB
KELAS
KELOMPOK
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN SEDIMEN
(PERCOBAAN
VII)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
DETERMINASI BATUAN METAMORF
(PERCOBAAN
VIII)
OLEH :
NAMA :
STB :
KELAS :
KELOMPOK :
LABORATORIUM GEOLOGI
FISIK
FAKULATAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS VETERAN
REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar