Mineralogi adalah salah satu cabang
ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral, baik dalam bentuk individu
maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari tentang sifat-sifat
fisik, sifat-sifat kimia, cara terdapatnya, cara terjadinya dan kegunaannya.
Mineralogi terdiri dari kata mineral
dan logos, dimana mengenai arti mineral mempunyai pengertian berlainan dan
bahkan dikacaukan dikalangan awam. Sering diartikan sebagai bahan bukan organik
(anorganik). Maka pengertian yang jelas dari batasan mineral oleh beberapa ahli
geologi perlu diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun
persesuaian umum untuk definisinya (Danisworo, 1994).
1. L.G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat
di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas
tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.
2. D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara
struktural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses
alam yang anorganik.
3. A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen
mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas-batas dan mempunyai
sifat-sifat tetap, dibentuk di alam dan bukan hasil suatu kehidupan.
Tetapi dari ketiga definisi tersebut
mereka masih memberikan anomali atau suatu pengecualian beberapa zat atau bahan
yang disebut mineral, walaupun tidak termasuk didalam suatu definisi. Sehingga
sebenarnya dapat dibuat suatu definisi baru atau definisi kompilasi. Dimana
definisi kompilasi tidak menghilangkan suatu ketentuan umum bahwa mineral itu
mempunyai sifat sebagai: bahan alam, mempunyai sifat fisis dan kimia tetap dan
berupa unsur tunggal atau senyawa.
Definisi mineral kompilasi: mineral
adalah suatu bahan alam yang mempunyai sifat-sifat fisis dan kimia tetap dapat
berupa unsur tunggal atau persenyawaan kimia yang tetap, pada umumnya
anorganik, homogen, dapat berupa padat, cair dan gas .
Mineral adalah zat-zat hablur yang
ada dalam kerak bumi serta bersifat homogen, fisik maupun kimiawi. Mineral itu
merupakan persenyewaan anorganik asli, serta mempunyai susunan kimia yang
tetap. Yang dimaksud dengan persenyawaan kimia asli adalah bahwa mineral itu
harus terbentuk dalam alam, karena banyak zat-zat yang mempunyai sifat-sifat
yang sama dengan mineral, dapat dibuat didalam laboratorium.
Sebuah zat yang banyak sekali
terdapat dalam bumi adalah SiO2 dan dalam ilmu mineralogi, mineral
itu disebut kuarsa. Sebaliknya zat inipun dapat dibuat secara kimia akan tetapi
dalam hal ini tidak disebut mineral melainkan zat Silisium dioksida .
Kalsit, adalah sebuah mineral yang
biasanya terdapat dalam batuan gamping dan merupakan mineral pembentuk batuan
yang penting. Zat yang dibuat dalam laboratorium dan mempunyai sifat- sifat
yang sama dengan mineral kalsit adalah CaCO3.
Demikian pula halnya dengan
garam-garam yang terdapat sebagai lapisan-lapisan dalam batuan. Garam dapur
dalam ilmu mineralogi disebut halit sedangkan dalam laboratorium garam dapur
disebut dengan natrium-khlorida.
Mineral-mineral mempunyai struktur
atom yang tetap dan berada dalam hubungan yang harmoni dengan bentuk luarnya.
Mineral-mineral inilah yang merupakan bagian-bagian pada batuan-batuan dengan
kata lain batuan adalah asosiasi mineral-minera
MINERAL DAN PENGGOLOGANNYA
Sebagian besar mineral-mineral ini
terdapat dalam keadaan padat, akan tetapi dapat juga berada dalam keadaan
setengah padat, gas, ataupun cair. Mineral-mineral padat itu biasanya terdapat
dalam bentuk-bentuk kristal, yang agak setangkup, dan yang pada banyak sisinya
dibatasi oleh bidang-bidang datar.
Bidang-bidang geometri ini memberi
bangunan yang tersendiri sifatnya pada mineral yang bersangkutan. Minyak bumi
misalnya adalah mineral dalam bentuk cair, sedangkan gas bumi adalah mineral
dalam bentuk gas. Sebagian dari mineral dapat juga dilihat dalam bentuk amorf,
artinya tidak mempunyai susunan dan bangunan kristal sendiri. Pengenalan atau
determinasi mineral-mineral dapat didasarkan atas bebagai sifat dari
mineral-mineral tersebut.
Mineral pada umumnya merupakan zat
anorganik. Mineral ada yang merupakan unsur bebas dan ada juga yang merupakan
bentuk pesenyawaan. Berikut ini adalah contoh mineral sebagai unsur bebas dan
juga mineral yang merupakan bentuk persenyawaan :
a. Mineral sebagai unsur bebas (element)
:
Cu = Cuprum = Copper = Tembaga
Au = Aurum = gold = Emas
Fe = Ferrum = Iron = Besi
Ag = Argentum = Silver = Perak
S = Sulphur = Sulfur = Belerang
C = Carbon = Diamond = Intan
C = Carbon = Graphite = Grafit
Sebagai catatan bahwa intan dan
grafit merupakan bentuk yang “Allotropi“ yaitu mineral dengan rumus kimia da
sifat kimia sama, tetapi mempunyai sifat-sifat fisis yang berbeda.
b. Mineral sebagai bentuk persenyawaan
(Compounds) :
a) Persenyawaan oksida
SnO2 = Cassiterite
Al2O3 = Corundum
Fe2O3 = Hematite
Fe3O4 = Magnetite
b) Persenyawaan sulfida
Cu2S = Chalcocite
PbS = Galena
FeS2 = Pyrite
ZnS = Sphalerite
c) Persenyawaan Karbonat
CaCO3 = Calcite
Ca Mg(CO3)2 = Dolomite
MgCO3 = Magnesite
d) Persenyawaan sulfat
CaSO4 = Anhydrite
CaSO4 2(H2O) = Gypsum
e) Persenyawaan “Non Ferro Magnesian
Silicates”
SiO2 = Kuarsa
K Al Si3O8 = Ortochlase
Ca (Al Si3O8) = Anorthite
Na (Al Si3O8) = Albit
K Al3 Si3O10 (OHF)2 = Muscovite/mika
putih
f) Persenyawaan “Ferro Magnesian
Silicates”
K2 (MgFe)2 (OH)2 (Al Si3 O10) =
Biotit
(MgFe)2 SiO4 = Olivin
SIFAT-SIFAT FISIK MINERAL
Semua mineral mempunyai susunan
kimiawi tertentu dan penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis
mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal
sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita
mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)
Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan
adalah:
1. Kilap (luster)
2. Warna (colour)
3. Kekerasan (hardness)
4. Cerat (streak)
5. Belahan (cleavage)
6. Pecahan (fracture)
7. Bentuk (form)
8. Berat Jenis (specific gravity)
9. Sifat Dalam
10. Kemagnetan
11. Kelistrikan
12. Daya Lebur Mineral
KILAP merupakan kenampakan atau
cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat terkena cahaya (Sapiie,
2006)
Kilap secara garis besar dapat
dibedakan menjadi jenis:
a. Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut
mempunyai kilap atau kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap
logam:
· Gelena
· Pirit
· Magnetit
· Kalkopirit
· Grafit
· Hematit
b. Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:
· Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang
seperti intan.
· Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada
kuarsa dan kalsit.
· Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai
sutera pada umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat,
misalnya pada asbes, alkanolit, dan gips.
· Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan
seperti damar misalnya pada spharelit.
· Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti
lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal dan nepelin.
· Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung
misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.
Kilap mineral sangat penting untuk
diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat dipakai dalam menentukan mineral
secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu
dengan yang lainnya, walaupun kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena
batas kilap yang satu dengan yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).
WARNA mineral merupakan kenampakan
langsung yang dapat dilihat, akan tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian
mineral karena suatu mineral dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung
keanekaragaman komposisi kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa
dapat berwarna putih susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau
demikian ada beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:
· Putih : Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O),
Gypsum (CaSO4.H2O), Milky Kwartz (Kuarsa
Susu) (SiO2)
· Kuning : Belerang (S)
· Emas : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)
· Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10)
(OH)), Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)
· Biru : Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))
· Merah : Jasper, Hematit (Fe2O3)
· Coklat : Garnet,
Limonite (Fe2O3)
· Abu-abu : Galena (PbS)
· Hitam : Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit
KEKERASAN
Adalah ketahanan mineral terhadap
suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu mineral dapat membandingkan suatu mineral
terentu yang dipakai sebagai kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai
kekerasan yang lebih kecil akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut.
Standar kekerasan yang biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh
Friedrich Mohs dari Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai
10 skala, dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk
mineral terkeras .
Skala Kekerasan Mohs
|
Skala Kekerasan
|
Mineral
|
Rumus Kimia
|
|
1
|
Talc
|
H2Mg3 (SiO3)4
|
|
2
|
Gypsum
|
CaSO4. 2H2O
|
|
3
|
Calcite
|
CaCO3
|
|
4
|
Fluorite
|
CaF2
|
|
5
|
Apatite
|
CaF2Ca3 (PO4)2
|
|
6
|
Orthoklase
|
K Al Si3 O8
|
|
7
|
Quartz
|
SiO2
|
|
8
|
Topaz
|
Al2SiO3O8
|
|
9
|
Corundum
|
Al2O3
|
|
10
|
Diamond
|
C
|
Sebagai perbandingan dari skala
tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat penguji
standar :
|
Alat Penguji
|
Derajat Kekerasan Mohs
|
|
Kuku manusia
|
2,5
|
|
Kawat Tembaga
|
3
|
|
Paku
|
5,5
|
|
Pecahan Kaca
|
5,5 – 6
|
|
Pisau Baja
|
5,5 – 6
|
|
Kikir Baja
|
6,5 – 7
|
|
Kuarsa
|
7
|
CERAT adalah warna mineral dalam bentuk
hancuran (serbuk). Hal ini dapat dapat diperoleh apabila mineral digoreskan
pada bagian kasar suatu keping porselin atau membubuk suatu mineral kemudian
dilihat warna dari bubukan tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli
mineral, dapat pula berbeda. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap
walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :
·
Pirit : Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin
akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
·
Hematit : Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin
akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
·
Augite : Ceratnya abu-abu kehijauan
·
Biotite : Ceratnya tidak berwarna
·
Orthoklase : Ceratnya putih
Warna serbuk, lebih khas dibandingkan
dengan warna mineral secara keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk
mengidentifikasi mineral (Sapiie, 2006).
BELAHAN merupakan kecenderungan
mineral untuk membelah diri pada satu atau lebih arah tertentu. Belahan
merupakan salah satu sifat fisik mineral yang mampu membelah yang oleh sini
adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur, tetapi terbelah-belah menjadi
bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral mempunyai sifa ini, sehingga
dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan sukar dibelah atau tidak dapa
dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di dalam sruktur kritsal tidak seragam
ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat ikatan yang lemah melalui suatu
bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui suatu bidang, maka mineral
akan cenderung membelah melalui bidang-bidang tersebut. Karena keteraturan
sifat dalam mineral, maka belahan akan nampak berjajar dan teratur (Danisworo,
1994).
Contoh mineral yang mudah membelah
adalah kalsit yang mempunyai tiga arah belahan sedang kuarsa tidak mempunyai
belahan. Berikut contoh mineralnya:
a. Belahan satu arah, contoh :
muscovite.
b. Belahan dua arah, contoh :
feldspar.
c. Belahan tiga arah, contoh
: halit dan kalsit.
PECAHAN adalah kecenderungan mineral
untuk terpisah-pisah dalam arah yang tidak teratur apabila mineral dikenai
gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan dapat dilihat dari sifat permukaan
mineral apabila memantulkan sinar. Permukaan bidang belah akan nampak halus dan
dapat memantulkan sinar seperti cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan
sinar ke segala arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).
Pecahan mineral ada beberapa macam,
yaitu:
· Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan pecahan,
seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh Kuarsa.
· Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya
asbestos, augit, hipersten
· Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus, contoh
pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.
· Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan yang kasar,
contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.
· Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak teratur dan
runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.
BENTUK, mineral ada yang berbentuk
kristal, mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh system kristalnya, dan
ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut mineral kristalin.
Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas disebut amorf (Danisworo,
1994).
Mineral kristalin sering mempunyai
bangun yang khas, misalnya:
a. Bangun kubus
: galena,
pirit.
b. Bangun
pimatik : piroksen, ampibole.
c. Bangun
doecahedon : garnet
Mineral amorf misalnya
: chert, flint.
Pada wujudnya sebuah kristal dapat
ditentukan dengan mengetahui sudut-sudut bidangnya. Dalam ilmu Kristalografi,
geometri dipakai enam jenis sistem sumbu, yaitu :
a. Sistem sumbu isometrik
Ketiga sumbu kristal terletak tegak
lurus satu dengan yang lain, mempunyai panjang yang sama. Contohnya : mineral
yang mempunyai sistem, kordinat demikian adalah pirit, magnetik, garam dapur.
b. Sistem sumbu Tetragonal
Jumlah sumbu 3 buah, 2 buah sumbu mendatar sama panjang, satu tegak lurus
dengan kesatuan sumbu lain, ketiga -tiganya saling tegak lurus sesamanya.
Contohnya sirkon atau keseterit.
c. Sitem sumbu Ortorombik
Jumlah sumbu tiga bsaling tegak
lurus, ketiganya mempunyai panjang yang berbeda. Contohnya : Olivim atau Topas.
d. Sistem Sumbu Monoklin
Jumlah sumbu 3 buah, mempunyai
panjang tidak sama, salah satu sumbu terletak tegak lurus pada sebuah sumbu
mendatar. Contohnya : Ortoklas, horenblenda, mika, gipsum.
e. Sistem Sumbu Triklin
Jumlah sumbu 3 buah tidak sama
panjang, tidak tegak lurus sesamanya. Contohnya : Plagioklas
f. Sistem Sumbu Heksagonal
Jumlah sumbu 4 buah, 3 buah sumbu
herizontal dan sama panjang membuat sudut-sudut yang sama besarnya. Contohnya :
Kalsit, kuarsa, aparit.
Kristal dengan bentuk panjang bisa
dijumpai, karena pertumbuhan kristal sering mengalami gangguan.
Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan dengan kondisi
sekelilingnya mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal yang khas, baik
yang berdiri sendiri maupun di dalam kelompok-kelompok. Kelompok tersebut
disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan dalam struktur sebagai berikut:
· Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri
dari butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal
ini berdasarkan ukuran butirnya dapat dibedakan menjadikriptokristalin/penerokristalin (mineral
dapat dilihat dengan mata biasa). Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar
gula pasir, disebut mempunyai sakaroidal.
· Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang
dan ramping. Bila prisma tersebut begitu memanjang, dan halus dikatakan
mempunyai struktur fibrous atau struktur berserat. Selanjutnya struktur kolom
dapat dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring (retikuler),
struktur bintang (stelated) dan radier.
· Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari
lembaran-lembaran. Bila individu-individu mineral pipih disebut struktur
tabuler,contoh mika. Struktur lembaran dibedakan menjadi struktur konsentris,
foliasi.
· Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai
kemiripan bentuk dengan benda lain. Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri
atau berkelompok.
Bentuk kristal mencerminkan
struktur dalam sehingga dapat dipergunakan untuk pemerian atau
pengidentifikasian mineral (Sapiie, 2006).
BERAT JENIS adalah perbandingan
antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang umum untuk menentukan
berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya
beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air,
misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah
berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume
butir mineral tersebut.
Sifat Dalam adalah sifat mineral
apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan
atau mengiris. Yang termasuk sifat ini adalah
· Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias
dipotong-potong, contoh kwarsa, orthoklas, kalsit, pirit.
· Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa
menjadi lapisan tipis, seperti emas, tembaga.
· Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan
pisau, hasil irisan rapuh, contoh gypsum.
· Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah
bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh mineral talk, selenit.
· Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan
dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh: muskovit.
Kemagnitan adalah sifat mineral
terhadap gaya magnet. Diatakan sebagai feromagnetic bila
mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetik, phirhotit.
Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic, dan
yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk melihat apakah
mineral mempunyai sifat magnetik atau tidak kita gantungkan pada seutas
tali/benang sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan
pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral tersebut
magnetik. Kuat tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat
dengan benang tersebut dengan garis vertical.
Kelistrikan adalah sifat listrik
mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar arus atau londuktor dan
idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada lagi
istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat
sebagai konduktor dalam batas-batas tertentu.
Daya lebur mineral yaitu meleburnya
mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan dengan membakar bubuk
mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam derajat keleburan.
3.1.2
Sifat Fisik Mineral
Terdapat dua
cara untuk dapat mengenal suatu mineral, yang pertama adalah dengan cara
mengenal sifat fisiknya. Yang termasuk dalam sifat fisik mineral adalah (1)
bentuk kristalnya, (2) berat jenis, (3) bidang belah, (4) warna, (5) kekerasan,
(6) goresan, dan (7) kilap. Adapun cara yang kedua adalah melalui analisa
kimiawi atau analisa difraksi sinar X, cara ini pada umumnya sangat mahal dan
memakan waktu yang lama.
Berikut ini
adalah sifat-sifat fisik mineral yang dapat dipakai untuk mengenal mineral
secara cepat, yaitu:
1. Bentuk kristal (crystall form): Apabila suatu mineral mendapat kesempatan untuk
berkembang tanpa mendapat hambatan, maka ia akan mempunyai bentuk kristalnya
yang khas. Tetapi apabila dalam perkembangannya ia mendapat hambatan, maka
bentuk kristalnya juga akan terganggu. Setiap mineral akan mempunyai sifat
bentuk kristalnya yang khas, yang merupakan perwujudan kenampakan luar, yang
terjadi sebagai akibat dari susunan kristalnya didalam. Bentuk bentuk kristal
antara lain adalah (gambar 3.1): Triklin, Monoklin, Tetragonal, Orthorombik,
Hexagonal, Kubik, Trigonal dll.
Gambar 3.1 Berbagai
bentuk bangun struktur kristal
Untuk dapat
memberikan gambaran bagaimana suatu bahan padat yang terdiri dari mineral dengan
bentuk kristalnya yang khas dapat terjadi, kita contohkan suatu cairan panas
yang terdiri dari unsur-unsur Natrium dan Chlorit. Selama suhunya tetap dalam
keadaan tinggi, maka ion-ion tetap akan bergerak bebas dan tidak terikat satu
dengan lainnya. Namun begitu suhu cairan tersebut turun, maka kebebasan
bergeraknya akan berkurang dan hilang, selanjutnya mereka mulai terikat dan
berkelompok untuk membentuk persenyawaan “Natrium Chlorida”.
Dengan semakin
menurunnya suhu serta cairan mulai mendingin, kelompok tersebut semakin
tumbuh membesar dan membentuk mineral “Halit” yang padat. Mineral “kuarsa”,
dapat kita jumpai hampir disemua batuan, namun umumnya pertumbuhannya terbatas.
Meskipun demikian, bentuknya yang tidak teratur tersebut masih tetap dapat
memperlihatkan susunan ion-ionnya yang ditentukan oleh struktur kristalnya yang
khas, yaitu bentuknya yang berupa prisma bersisi enam. Tidak perduli apakah
ukurannya sangat kecil atau besar karena pertumbuhannya yang sempurna, bagian
dari prisma segi enam dan besarnya sudut antara bidang-bidangnya akan tetap
dapat dikenali. Kristal mineral intan, dapat dikenali dari bentuknya yang
segi-delapan atau “oktahedron” dan mineral grafit dengan segi-enamnya yang
pipih, meskipun keduanya mempunyai susunan kimiawi yang sama, yaiut keduanya
terdiri dari unsur Karbon (C). Perbedaan bentuk kristal tersebut terjadi karena
susunan atom karbonnya yang berbeda.
2. Berat
jenis (specific gravity): Setiap mineral mempunyai berat jenis
tertentu. Besarnya ditentukan oleh unsur-unsur pembentuknya serta kepadatan
dari ikatan unsur-unsur tersebut dalam susunan kristalnya. Umumnya
“mineral-mineral pembentuk batuan”, mempunyai berat jenis sekitar 2.7, meskipun
berat jenis rata-rata unsur metal didalamnya berkisar antara 5. Emas murni
umpamanya, mempunyai berat jenis 19.3.
3. Bidang belah
(fracture): Mineral
mempunyai kecenderungan untuk pecah melalui suatu bidang yang mempunyai arah
tertentu. Arah tersebut ditentukan oleh susunan dalam dari atom-atomnya.
Dapat dikatakan bahwa bidang tersebut merupakan bidang “lemah” yang dimiliki
oleh suatu mineral.
4. Warna (color): Warna mineral memang bukan
merupakan penciri utama untuk dapat membedakan antara mineral yang satu dengan
lainnya. Namun paling tidak ada warna-warna yang khas yang dapat digunakan
untuk mengenali adanya unsur tertentu didalamnya. Sebagai contoh warna gelap
dipunyai mineral, mengindikasikan terdapatnya unsur besi. Disisi lain
mineral dengan warna terang, diindikasikan banyak mengandung aluminium.
5. Kekarasan (hardness): Salah satu
kegunaan dalam mendiagnosa sifat mineral adalah dengan mengetahui kekerasan
mineral. Kekerasan adalah sifat resistensi dari suatu mineral terhadap
kemudahan mengalami abrasi (abrasive) atau mudah tergores (scratching). Kekerasan
suatu mineral bersifat relatif, artinya apabila dua mineral saling
digoreskan satu dengan lainnya, maka mineral yang tergores adalah mineral yang
relatif lebih lunak dibandingkan dengan mineral lawannya. Skala kekerasan
mineral mulai dari yang terlunak (skala 1) hingga yang terkeras (skala 10)
diajukan oleh Mohs dan dikenal sebagai Skala Kekerasan Mohs.
Tabel
3.1
Skala
Kekerasan Relatif Mineral (Mohs)
|
Kekerasan
(Hardness)
|
Mineral
|
Rumus Kimia
|
|
1
|
Talc
|
Mg3Si4O10(OH)2
|
|
2
|
Gypsum
|
CaSO4·2H2O
|
|
3
|
Calcite
|
CaCO3
|
|
4
|
Fluorite
|
CaF2
|
|
5
|
Apatite
|
Ca5(PO4)3(OH,Cl,F)
|
|
6
|
Orthoclase
|
KAlSi3O8
|
|
7
|
Quartz
|
SiO2
|
|
8
|
Topaz
|
Al2SiO4(OH,F)2
|
|
9
|
Corundum
|
Al2O3
|
|
10
|
Diamond
|
C
|
6. Goresan pada
bidang (streak): Beberapa jenis mineral mempunyai
goresan pada bidangnya, seperti pada mineral kuarsa dan pyrit, yang sangat
jelas dan khas.
7. Kilap
(luster): Kilap adalah kenampakan atau kualitas pantulan cahaya
dari permukaan suatu mineral. Kilap pada mineral ada 2 (dua) jenis, yaitu Kilap Logam dan Kilap
Non-Logam. Kilap Non-logam antara lain, yaitu: kilap mutiara, kilap gelas,
kilap sutera, kelap resin, dan kilap tanah.
3.1.3 Sifat Kimiawi Mineral
Berdasarkan senyawa kimiawinya, mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral
Silikat dan mineral Non-silikat. Terdapat 8 (delapan) kelompok mineral
Non-silikat, yaitu kelompok Oksida, Sulfida, Sulfat, Native elemen,
Halid, Karbonat, Hidroksida, dan Phospat (lihat tabel 3.3). Adapun mineral
silikat (mengandung unsur SiO) yang umum dijumpai dalam batuan adalah seperti
terlihat pada tabel 3.2. Di depan telah dikemukakan bahwa tidak kurang dari
2000 jenis mineral yang dikenal hingga sekarang. Namun ternyata hanya beberapa
jenis saja yang terlibat dalam pembentukan batuan. Mineral-mineral tersebut
dinamakan “Mineral pembentuk batuan”, atau “Rock-forming minerals”, yang
merupakan penyusun utama batuan dari kerak dan mantel Bumi. Mineral pembentuk
batuan dikelompokan menjadi empat: (1) Silikat, (2) Oksida, (3) Sulfida dan (4)
Karbonat dan Sulfat.
Gambar 3.2
Berbagai jenis mineral yang memperlihatkan struktur kristal
1.
Mineral Silikat
Hampir 90 %
mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara
silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang
besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari mineral silikat, dan
hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi).
Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan
beku maupun batuan malihan. Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.
Berikut adalah Mineral Silikat:
1. Kuarsa:
( SiO2 )
2. Felspar
Alkali: ( KAlSi3O8 )
3. Felspar Plagiklas: (Ca,Na)AlSi3O8)
4. Mika Muskovit: (K2Al4(Si6Al2O20)(OH,F)2
5. Mika
Biotit: K2(Mg,Fe)6Si3O10(OH)2
6. Amfibol: (Na,Ca)2(Mg,Fe,Al)3(Si,Al)8O22(OH)
7. Pyroksen: (Mg,Fe,Ca,Na)(Mg,Fe,Al)Si2O6
8. Olivin:
(Mg,Fe)2SiO4
Nomor 1 sampai 4 adalah mineral non-ferromagnesium dan
5 hingga 8 adalah mineral ferromagnesium.
Tabel 3.2 Kelompok
Mineral Silikat
|
MINERAL
|
RUMUS KIMIA
|
|
|
Olivine
|
(Mg,Fe)2SiO4
|
|
|
Pyroxene
|
(Mg,Fe)SiO3
|
|
|
Amphibole
|
(Ca2Mg5)Si8O22(OH)2
|
|
|
Mica
|
Muscovite
|
KAl3Si3O10(OH)2
|
|
Biotite
|
K(Mg,Fe)3Si3O10(OH)2
|
|
|
Feldspar
|
Orthoclase
|
K Al Si3 O8
|
|
Plagioclase
|
(Ca,Na)AlSi3O8
|
|
|
Quartz
|
SiO2
|
|
2. Mineral
ferromagnesium:
Umumnya mempunyai warna gelap atau hitam dan berat
jenis yang besar.
Olivine: dikenal karena warnanya yang “olive”. Berat jenis
berkisar antara 3.27 – 3.37, tumbuh sebagai mineral yang mempunyai bidang belah
yang kurang sempurna.
Augitit: warnanya sangat gelap hijau hingga hitam. BD berkisar
antara 3.2 – 3.4 dengan bidang belah yang berpotongan hampir tegak lurus.
Bidang belah ini sangat penting untuk membedakannya dengan mineral hornblende.
Hornblende: warnanya hijau hingga hitam; BD. 3.2 dan mempunyai
bidang belah yang berpotongan dengan sudut kira-kira 56° dan
124° yang sangat membantu dalam cara mengenalnya.
Biotite: adalah mineral “mika” bentuknya pipih yang dengan
mudah dapat dikelupas. Dalam keadaan tebal, warnanya hijau tua hingga
coklat-hitam; BD 2.8 – 3.2.
3.
Mineral non-ferromagnesium.
Muskovit: Disebut mika putih karena warnanya yang
terang, kuning muda, coklat , hijau atau merah. BD. berkisar antara 2.8 – 3.1.
Felspar: Merupakan mineral pembentuk batuan yang paling
banyak . Namanya juga mencerminkan bahwa mineral ini dijumpai hampir disetiap
lapangan. “Feld” dalam bahasa Jerman adalah lapangan (Field). Jumlahnya didalam
kerak Bumi hampir 54 %. Nama-nama yang diberikan kepada felspar adalah
“plagioklas” dan “orthoklas”. Plagioklas kemudian juga dapat dibagi dua, “albit”
dan “anorthit”. Orthoklas adalah yang mengandung Kalium, albit mengandung
Natrium dan Anorthit mengandung Kalsium.
Orthoklas: mempunyai warna yang khas yakni putih abu-abu
atau merah jambu. BD. 2.57.
Tabel 3.3
Kelompok Mineral Non-Silikat
|
KELOMPOK
|
ANGGOTA
|
SENYAWA KIMIA
|
|
Oxides
|
Hematite
Magnetite
Corrundum
Chromite
Ilmenite
|
Fe2O3
Fe3O4
Al2O3
FeCr2O4
FeTiO3
|
|
Sulfides
|
Galena
Sphalerite
Pyrite
Chalcopyrite
Bornite
Cannabar
|
PbS
ZnS
FeS2
CuFeS2
Cu5FeS4
HgS
|
|
Sulfates
|
Gypsum
Anhydrite
Barite
|
CaSO4,2H2O
CaSO4
BaSO4
|
|
Native Elements
|
Gold
Cooper
Diamond
Sulfur
Graphite
Silver
Platinum
|
Au
Cu
C
S
C
Ag
Pt
|
|
Halides
|
Halite
Flourite
Sylvite
|
NaCl
CaF2
KCl
|
|
Carbonates
|
Calcite
Dolomite
Malachite
Azurite
|
aCO3
CaMg(CO3)2
Cu2(OH)2CO3
Cu3(OH)2(CO3)2
|
|
Hydroxides
|
Limonite
Bauxite
|
FeO(OH).nH2O
Al(OH)3.nH2O
|
|
Phosphates
|
Apatite
Turquoise
|
Ca5(F,Cl,OH)PO4
CuAl6(PO4)4(OH)8
|
Kuarsa: Kadang disebut “silika”. Adalah satu-satunya
mineral pembentuk batuan yang terdiri dari persenyawaan silikon dan oksigen.
Umumnya muncul dengan warna seperti asap atau “smooky”, disebut juga “smooky
quartz”. Kadang-kadang
juga dengan warna ungu atau merah-lembayung (violet). Nama kuarsa yang demikian
disebut “amethyst”, merah massip atau merah-muda, kuning hingga coklat. Warna
yang bermacam-macam ini disebabkan karena adanya unsur-unsur lain yang tidak
bersih.
4. Mineral oksida. Terbentuk sebagai akibat perseyawaan langsung
antara oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana dibanding
silikat. Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali
silikat. Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama dalam
oksida adalah besi, Chroom, mangan, timah dan aluminium. Beberapa mineral oksida yang
paling umum adalah “es” (H2O), korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2).
5. Mineral Sulfida. Merupakan mineral hasil
persenyawaan langsung antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang), seperti
besi, perak, tembaga, timbal, seng dan merkuri. Beberapa dari mineral sulfida
ini terdapat sebagai bahan yang mempunyai nilai ekonomis, atau bijih, seperti
“pirit” (FeS3), “chalcocite” (Cu2S), “galena” (PbS), dan “sphalerit” (ZnS).
6. Mineral-mineral Karbonat dan Sulfat. Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2-, dan disebut “karbonat”, umpamanya persenyawaan
dengan Ca dinamakan “kalsium karbonat”, CaCO3 dikenal sebagai mineral “kalsit”. Mineral
ini merupakan susunan utama yang membentuk batuan sedimen.
Pada gambar 3.3 diperlihatkan mineral-mineral yang
umum dijumpai pada batuan beku, yaitu plagioclase
feldspar, K-feldspar, quartz, muscovite
mica, biotite
mica,amphibole, olivine, dan calcite. Mineral
mineral tersebut mudah dikenali, baik secara megaskopis maupun mikroskopis
berdasarkan dari sifat sifat fisik mineral masing-masing. Adapun ciri dari
mineral mineral tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah.
Gambar 3.3 Berbagai jenis
mineral yang umum dijumpai sebagai penyusun batuan
|
Olivine
Olivine adalah kelompok mineral silikat yang tersusun dari unsur besi
(Fe) dan magnesium (Mg). Mineral olivine berwarna hijau, dengan kilap gelas,
terbentuk pada temperatur yang tinggi. Mineral ini umumnya dijumpai pada
batuan basalt dan ultramafic. Batuan yang keseluruhan mineralnya terdiri dari
mineral olivine dikenal dengan batuan Dunite.
|
||
|
Amphibole/Hornblende
Amphibole adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau kristal
yang menyerupai jarum. Mineral amphibole umumnya mengandung besi (Fe),
Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), dan Alumunium (Al), Silika (Si), dan Oksigen
(O). Hornblende tampak pada foto yang berwarna hijau tua kehitaman. Mineral
ini banyak dijumpai pada berbagai jenis batuan beku dan batuan metamorf.
|
||
|
Biotite
Semua mineral mika berbentuk pipih, bentuk kristal berlembar menyerupai
buku dan merupakan bidang belahan (cleavage) dari mineral biotite. Mineral
biotite umumnya berwarna gelap, hitam atau coklat sedangkan muscovite
berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika mempunyai kekerasan yang lunak
dan bisa digores dengan kuku.
|
||
|
Plagioclase feldspar
Mineral Plagioclase adalah anggota dari kelompok mineral feldspar.
Mineral ini mengandung unsur Calsium atau Natrium. Kristal feldspar berbentuk
prismatik, umumnya berwarna putih hingga abu-abu, kilap gelas. Plagioklas
yang mengandung Natrium dikenal dengan mineral Albite, sedangkan yang
mengandung Ca disebut An-orthite
|
||
|
Potassium feldspar (Orthoclase)
Potassium feldspar adalah anggota dari mineral feldspar. Seperti
halnya plagioclase feldspar, potassium feldspars adalah mineral silicate yang
mengandung unsur Kalium dan bentuk kristalnya prismatik, umumnya berwarna
merah daging hingga putih.
|
||
|
Mica
Micas adalah kelompok mineral silicateminerals dengan
komposisi yang bervariasi, dari potassium (K), magnesium (Mg), iron
(Fe), aluminum (Al) , silicon (Si) dan air (H2O).
|
||
|
Quartz
Quartz adalah satu dari mineral yang umum yang banyak dijumpai pada kerak
bumi. Mineral ini tersusun dari Silika dioksida (SiO2), berwarna putih,
kilap kaca dan belahan (cleavage) tidak teratur (uneven) concoidal.
|
||
|
Calcite
Mineral Calcite tersusun dari calcium carbonate (CaCO3).
Umumnya berwarna putih transparan dan mudah digores dengan pisau. Kebanyakan
dari binatang laut terbuat dari calcite atau mineral yang berhubungan
dengan 'lime' dari batugamping.
|
||


















